
"Pendidikan Karakter Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa dengan
Subtema Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti".
Begitu slogan TEMA Hari Pendidikan tahun 2011 yang disampaikan oleh Kementerian Pendidikan Republik ini.
Hmm...BUDI PEKERTI...
Meski tidak tercantum secara jelas sebagai mata pelajaran tersendiri sebagai mata pelajaran Budi Pekerti, namun tentunya tersirat di semua mata pelajaran yang diajarkan di semua jenjang pendidikan, dini-menengah-atas-tinggi.
Diteladankan oleh Para Guru, Pendidik, Orang Tua dalam keharian penyampaian ilmu, penyampaian wejangan serta dalam komunikasi, SEMESTINYA.
NYATAnya, budi pekerti NYARIS menjadi hal langka di era serba instant ini!
Budi pekerti terhapus oleh ketakutan akan desakan ANGKA minimal kelulusan jenjang pendidikan, kebutuhan akan legalitas strata pendidikan, serta kehormatan semu yang semuanya ingin diraih secara INSTANT di ke-fana-an Dunia.
Alunan senandung semesta kali ini membuka ranah memory, mengais-ngais lagi cita-cita mulia Pendulu yang sebenarnya telah menanam benih-benih kemuliaan PENDIDIKAN di Semesta ini......
KI HAJAR DEWANTORO, seorang Pendidik aseli INDONESIA, 'menyenandungkan' : Pendidikan menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif).Singkatnya, “
Educate the Head, the Heart, and the Hand !”. Menurut beliau manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya.
Ki Hajar Dewantara merubah sikapnya dalam melaksanakan pendidikan yaitu dari
satria pinandita ke pinandita satria yaitu dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara. Para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar.
Pendidik atau Sang Hajar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Modelnya adalah Kyai Semar (menjadi perantara antara Tuhan dan manusia, mewujudkan kehendak Tuhan di dunia ini). Sebagai pendidik yang merupakan perantara Tuhan maka guru sejati sebenarnya adalah berwatak pandita juga, yaitu mampu menyampaikan kehendak Tuhan dan membawa keselamatan.
WOW...sebuah pemikiran indah dari Seorang Tokoh Pendidikan kebanggan bangsa ini, Ki Hajar Dewantoro yang bukan hanya menyelipkan BUDI PEKERTI tapi menjadikannya sebagai PONDASI !
Sebuah senandung lainnya yang sangat cantik dan menDIDIK saya kutip dari perbincangan seorang Kakek di persimpangan jalan dengan seorang mantan Rakyan Rangga Kerajaan Majapahit bernama Respati (dalam buku SAMITA karya TASARO) berikut ;
" Seorang pemimpin itu harus SURYA, memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan. Menumbuhkan daya hidup rakyatnya untuk membangun negerinya."
" Seorang pemimpin juga harus menjadi CANDRA, memancarkan sinar di tengah gelap malam. Dia harus mampu memberi semangat kepada yang dipimpinnya di tengah suka dan duka."
"begitu banyak rakyat merindukan Pemimpin berjiwa KARTIKA, yang memancarkan sinar kemilauan, berada di tempat tinggi hingga dapat dijadikan pedoman arah, menjadi TELADAN perbuatan baik".
"Jiwa MARUTA, ada dimana-mana tanpa membedakan tempat dan pengkastaan, selalu mengisi semua ruang kosong, tanpa memilah derajat dan martabat."
"Pemimpin mesti bersemangat SAMUDRA, betapapun luasnya permukaannya selalu datar dan bersifat sejuk menyegarkan, sangat
welas asih. Memiliki sifat DAHANA, berwibawa dan berani menegakkan kebenaran secara tegas tanpa pandang bulu. Serta ber-hati nurani BHUMI,Kuat dan murah hati. Memberi hasil kepada yang merawatnya juga bermurah dan tidak mengecewakan kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya."
WOW...sebuah nada-nada mendidik Semesta yang sangat luar biasa indah dan semestinya diteladankan dan diwariskan seorang PEMIMPIN dalam konteks ini bisa GURU, ORANG TUA, Yang Lebih Tua pada yang dipimpin, yang dididik, yang lebih muda.
Sebuah senandung syhadu dilantunkan oleh seorang Ibu Guru yang mengajar di sebuah SMP di Bandung, Beliau memiliki SEMBILAN putra putri kandung namun masih berkesempatan membagikan senandung kasih dan keilmuan pada murid-muridnya di sekolah."BELAJAR itu selain merupakan kewajiban juga merupakan bentuk SYUKUR pada Sang Pemilik Semesta"
WOW...pelengkap senandung rampai pendidikan yang sangat menyentuh terus BELAJAR dan berSYUKUR...menjadi elemen pelindung kokohnya konstruksi PENDIDIKAN di Republik ini, SEMOGA!!!
“…Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. 16:43) “
-disenandungkan Indri di fajar hari awal bulan Mei yang kemilau-